Kapitalisme Perkawanan ala Trump

Kapitalisme Perkawanan ala Trump

Image Source: http://sharronjamison.com/wp-content/uploads/2016/04/Growth4.jpg

Tidak sulit untuk melihat bahwa tanda-tanda kapitalisme kroni jelas ada dalam tim administrasi Trump yang baru akan lahir.

Dalam kasus-kasus ekstrem, perekonomian berbasis kroni umumnya dikendalikan oleh kaum elit politik. Contohnya Rusia: teman-teman dekat Presiden Rusia Vladimir Putin adalah bos-bos perusahaan minyak dan fuel negara yang mengendalikan perekonomian negara tersebut. Atau di negara kita sendiri, Indonesia. Masih ingat ketika anggota keluarga Cendana mengendalikan hampir semua sektor perekonomian negara di masa kepemimpinan Soeharto yang berakhir di warsa 1998?

Memang Trump-isme tak akan segitu parahnya mengingat AS memiliki barisan lembaga yang strong dan tak punya sejarah mengadopsi kepemimpinan ala diktator. Namun tetap saja transisi pemerintahan Trump terlihat jauh berbeda dibanding pemerintahan-pemerintahan AS sebelumnya. Seakan sedang menguji hukum anti-nepotisme negara adidaya tersebut, Trump berencana membawa anggota keluarga'anak perempuannya Ivanka dan suaminya Jared Kushner dan asosiasi-asosiasi bisnis mereka yang rumit'untuk tinggal di Gedung Putih. Selain pembentukan kabinet yang mencurigakan, Trump juga sempat mengumumkan bahwa akan ada 'posisi-posisi spesial' bagi associate bisnisnya dan pendukungnya yang kaya, bahwa mereka akan berpengaruh terhadap policy negara'yang bisa disalahgunakan untuk kepentingan komersil.

Contohnya, eks kandidat presiden AS Rudolph Guiliani, yang memang merupakan pendukung Trump, diberikan posisi selaku penasihat keamanan dunia cyber. Perlu diingat bahwa Guiliani memiliki perusahaan bisnis konsultasi keamanan dunia cybernya sendiri. Carl Icahn, seorang investor Wall Street dan asosiasi bisnis Trump diberikan titel penasihat spesial dalam bidang perombakan regulasi biarpun sebetulnya banyak investasi pribadi milik Icahn akan naik nilainya apabila regulasi dikurangi.

Awal minggu ini, Wall Street Journal melaporkan bahwa petinggi real estate New York yang tajir, Richard LeFrak dan Steven Roth akan diberikan wewenang untuk mengurusi uang yang dipergunakan untuk pengembangan infrastruktur di bawah pemerintahan Trump. Tidak ada alasan yang jelas kenapa mereka yang dipilih.

Jangan lupakan juga tweet-tweet pribadi Donald Trump yang kerap mempengaruhi perekonomian dunia. Dia kerap melontarkan pujian dan ancaman ke figur-figur publik dan perusahaan besar lewat aplikasi yang membatasi postingan sebanyak a hundred and forty karakter tersebut.

Keputusan besar pertama yang diambil Trump pasca memenangkan pemilu adalah bertransaksi dengan perusahaan AC Carrier agar mereka tak memindahkan pabrik mereka dari Indiana ke Meksiko. Tentunya tak ada yang menentang keputusannya untuk menyelamatkan mata pencaharian penduduk AS, tapi ahli ekonomi kebingungan dengan cara Trump melakukan perjanjian ad hoc dengan sebuah perusahaan untuk mencapai tujuannya. Hukum hanya akan berjalan apabila diberlakukan ke semua orang dan perusahaan secara adil, tanpa kecuali.

Cara Trump menerapkan hukum selama ini tak mempromosikan policy baru ke semua orang, tapi justru secara spesifik menawarkan insentif atau mengancam pihak-pihak tertentu'karena takut mereka akan membelot'adalah bentuk sistem kapitalisme berbasis kroni, jelas Luigi Zingales, profesor ekonomi University of Chicago saat diwawancarai Bloomberg News ketika berita seputar perjanjian Carrier tersebut terungkap.

Beberapa ahli mengucapkan bahwa kapitalisme kroni ini sebetulnya bisa membantu perekonomian sebuah negara dengan definisi hak milik yang belum jelas; membagi profit perusahaan ke figur yang kuat dapat mencegah adanya perampasan sewenang-wenang oleh pihak negara. Biarpun begitu, ada alasan mengapa ahli ekonomi tak menyarankan kapitalisme kroni secara umum: seiring waktu berjalan, sistem ini akan menghancurkan perekonomian karena pengusaha dikecilkan, inovasi tak didukung, sehingga level produktifitas ekonomi berkurang.

Lalu apa yang akan terjadi di AS apabila kronisme berkuasa?Gak ada yang tahu, karena belum banyak contoh negara kaya raya seperti AS yang berpaling dari demokrasi dan kapitalisme terbuka dan kemudian menganut sistem kronisme dan dipimpin oleh figur yang mendominasi.

Ahli ekonomi mengucapkan bahwa negara yang sempat mengalami situasi yang mirip paling hanya Argentina. Satu abad yang lalu, Argentina merupakan salah satu dari 10 negara terkaya di dunia, dengan pendapatan rata-rata di atas Perancis, Jerman dan Italia. Namun ketika Depresi Besar terjadi, Argentina mengubah sistem pemerintahannya. Selama tujuh dekade, negara tersebut mengadopsi demokrasi konstitusional dan dipimpin seorang warga sipil.

Negara tersebut diambil alih oleh Junta militer yang menjanjikan pertumbuhan ekonomi dengan cara mengutamakan produksi domestik di atas barang impor dan memperketat peraturan imigrasi. Mundurnya Argentina dari perdagangan internasional dan sistem demokrasi menyebabkan negara ini menderita dari kapitalisme kroni, perekonomian yang lemah, krisis finansial periodik dan perebutan kekuasaan selama beberapa dekade. Amerika Serikat harusnya belajar dari kasus Argentina ini.

Kebijakan semacam ini tak pernah berakhir baik dalam sejarah, jelas Raymond Fisman, seorang profesor ekonomi dari Boston University yang mendalami korupsi.

Leave a Reply